MELISSA
Aku kini duduk di belakangnya, menatap kepalanya yang tertunduk dari belakang. Ben, kenapa kau enggan melihat ke arahku lagi? Aku menunduk, terdiam. Kereta Eksekutif Bandung-Jakarta yang tak begitu ramai itu terus berjalan, melewati kawasan hijau yang tak menenangkan hatiku yang gundah. Aku meneteskan air mata. Pria yang kucintai itu membisu. Kepala Ben terangkat dan aku tersenyum melihatnya. Aku ingat masa-masa waktu kami SMA dulu, dimana aku selalu mengaguminya sebagai kakak kelas. Suatu hari akhirnya kami bicara, walau kata Dina apa yang aku dan Ben lakukan bukan percakapan yang sebenarnya.
Bola basket meluncur ke kakiku dan sang pemilik bola berlari ke arahku. Aku girang setengah mati dan hampir pingsan ketika melihat sosok itu mendekat. Ia tersenyum. Aku mengambil bola itu dengan tangan yang gemetar karena rasanya jantungku akan loncat saat itu juga.
“Ini Kak bolanya….” Aku berujar dengan amat canggung, wajahku terasa memanas karena Ben begitu dekat.
Ben mengangguk sekali, “Makasih ya….” katanya dengan suara yang begitu lembut.
Aku berusaha tersenyum walau rasanya ingin berlari karena begitu salah tingkah berada di dekatnya.
Kereta terus berjalan menuju Jakarta. Aku tersenyum pahit mengingat semua memori itu, saat pertama kali kami bicara. Aku sangat gembira sampai aku menceritakan itu pada sahabatku, Dina, sebanyak dua puluh lima kali dan ia hanya mengangguk bosan ketika ceritaku yang itu-itu saja dimulai. Mataku masih melekat pada sosok Ben. Ben yang selalu canggung di hadapanku, yang selalu ada di hatiku.
“Aku mencintaimu Ben.” teriakku dalam hati.
Ben hanya diam.
—-
Aku duduk di tepi tempat tidurku, melihat ke segala penjuru yang sangat tertata rapi dan merah muda. Semuanya masih sama, tak ada barang yang dipindahkan. Tempat majalah kayu itu masih di sudut, handukku masih tergantung rapi, bingkai-bingkai foto pun tampaknya terus dibersihkan sehingga tak terlihat satu debu pun yang berani menempel di sana. Aku berdiri, mencoba merasakan wangi green tea yang begitu membuatku haru. Aku mendekati foto itu, Dina dan aku yang tertawa dengan ceria saat kami memastikan langkah kami menuju salah satu universitas terbaik di Bandung serta merayakan keberhasilanku merapatkan langkah mendekati Ben.
“Wah kamu memang gila Mel, sengaja ya mau PDKT sama Ben?” Dina menggodaku.
Aku tersenyum kecut, “Enggak, kan kamu tahu dari dulu aku mau jadi arsitek…. See, you forgot the thing that i really want to do. Padahal aku udah bilang ini waktu kita masih SMP lho!” Aku menyanggah Dina dengan nada yang sedikit ngambek.
Dina terkekeh, “Iya mau jadi arsitek, tapi kalau bisa pacarannya sama Ben. Aduh Mel, Mel, kamu tuh ya kebaca banget strateginya!” Dina mencibir.
Aku hanya tertawa, memang sulit rasanya membohongi sahabatku yang satu ini. Kami telah berteman sejak SD dan hingga kini persahabatan kami tak pernah merenggang, bahkan setelah sama-sama menetap di Bandung pun kami memutuskan untuk tetap dekat satu sama lain, bahwa kami akan tetap menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Aku dan Dina bahkan merencanakan untuk ikut reality show tentang perjalanan menegangkan ke seluruh dunia dengan misi-misi yang harus diselesaikan.
“Beneran ikut ya?” Aku meminta Dina untuk berjanji.
“Iya ikut! Paling kita kalah di babak awal karena kamu lemot! Ohohoho!” Dina mengejek.
Aku mencubit Dina karena dia terus mengataiku yang bingung bagaimana memasak nasi dengan rice cooker di hari ke enam kami tinggal di pondokan. Aku masih tersenyum melihat foto itu, foto sahabat terbaik di dunia, yang selalu menemaniku dengan setulus hatinya.
“Dina, maafkan aku….” Ujarku lirih.
—-
Aku keluar, melihat ruang makan yang begitu lengang. Semuanya jadi terlihat aneh karena begitu rapi. Tak ada makanan di atas meja makan yang biasanya dipenuhi kue-kue buatan mami, tak ada berbagai macam lauk yang rasanya jauh lebih hebat daripada hotel bintang lima. Tak ada frying pan atau panci-panci yang berantakan di dapur. Semuanya begitu rapi hari ini. Aku tertawa kalau mengingat betapa mami memasak begitu banyak demi menyenangkan hati putri tunggalnya ini.
“Enak sayang?” tanya mami dengan mata berbinar melihat aku makan siang dengan lahap.
“ Enak Mi! Ayam rica-ricanya pedes banget!” Kuteguk air putih dengan cepat.
Aku menuju sofa cokelat yang kini terlihat begitu tak memiliki jiwa. Biasanya, di sana, aku dan papi sering menghabiskan waktu berdua menonton bulutangkis, berteriak bersama saat Taufik Hidayat yang terkadang terlihat kurang bersemangat atau bersorak saat Lilyana Natsir melakukan gempuran hebat. Aku tersenyum. Aku ingat kata papi pada sore itu.
“Wah, untung ada kamu yang mau menemani papi nonton. Nanti pagi ada bola lho Mel, nonton sama papi ya?” ajak papi.
Lama aku memandang sebuah foto kenanganku dengan papi. Papi merangkulku yang tengah memegang stick golf. Asal tahu saja, sebenarnya saat itu aku sedang ngambek berat karena papi memarahiku yang tak bisa memukul bola dengan benar tapi mami selalu tahu bagaimana mencairkan kemarahanku. Mami mengambil kamera, mengabadikan momen kebersamaanku dengan papi. Aku yang tak pernah mau terlihat jelek di foto, tersenyum dengan amat manis kemudian lupa dengan amarahku. Kata mami, aku memang kelewat narsis. Mami sempat bercanda denganku, katanya, aku lebih baik ikut pemilihan kontes model remaja saja.
“Mel ikut kontes model majalah ini ya Mi?” tanyaku dengan manja sambil menunjukkan formulir pendaftaran.
Mami menggeleng, “Enggak boleh, nanti roknya pendek-pendek, bajunya lengan buntung semua! Pokoknya enggak boleh. Waktu itu mami bercanda bilang kamu cocok jadi model.” jawab mami saat itu.
Aku kembali melihat ke sekitar ruangan, banyak fotoku sedari bayi hingga dewasa sekarang; aku yang sedang merangkak ditemani papi atau mami yang tengah menguncir rambutku dengan pita merah. Semuanya menunjukkan betapa aku menjadi belahan jiwa mereka. Mami dan papi seringkali bilang kalau mereka sangat ingin memberikanku seorang adik tapi tampaknya Tuhan belum mau mengabulkan doa mereka. Aku mengenggam kedua tanganku. Mataku terpejam. Bibirku mengucap doa dengan begitu tulus.
“Tuhan, aku mohon, berikan aku adik.” Air mataku terurai.
—
Aku kini berdiri di belakang orang-orang berbaju hitam yang begitu hening. Rumput-rumput terlihat seperti karpet hijau dan sinar mentari pagi yang cerah tak terasa hangat di kulitku. Semuanya ada di sana; guru-guru, beberapa dosen, teman-temanku, Oma, Dina, Ben, Papi dan Mami. Aku menangis, tak ada yang melihatku di sini. Aku melihat peti putih cantik itu kini mulai diturunkan ke liang lahat. Mami terjatuh lemas dan Papi menangis di balik kacamatanya yang besar. Ben menangis, ia menunduk begitu dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang benar-benar basah oleh airmata. Dina tampak begitu terpukul, bahunya berguncang hebat karena ia menahan suara tangisnya. Semua teman-temanku juga menangis, Cecyl, Amanda, Nisa, Joy, Andi, Tamara. Guru-guruku juga terlihat begitu sedih. Aku sendiri hanya diam, mendekati mami yang tampak terkulai lemah, terduduk menatap petiku yang sudah berada di dasar tanah. Tanganku tak mampu menyentuh bahu mami. Aku tak bisa menjangkau apapun lagi di dunia ini. Aku menangis tersedu-sedu ketika melihat tanah mulai menutupi peti itu.
Aku memejamkan mata, bayangan malam itu melintas lagi. Sebuah mobil yang pengemudinya tengah mabuk menabrakku saat aku berjalan kaki pulang dari mini market di depan rumahku. Saat itu, ragaku diam dengan mata terpejam, tubuhku bersimbah darah. Aku berteriak melihat diriku sendiri. Semua orang berlari ke arahku, tapi tak ada yang mampu mendengar suaraku. Mereka berusaha membantuku, membawa ragaku yang sudah lemas tak bernyawa.
Aku membuka mataku, yang bisa kulakukan hanya menangis, menangis dan menangis. Semuanya berakhir. Tak ada lagi yang dapat kulakukan untuk mengenggam masa depan. Satu per satu orang mulai meninggalkan makamku. Mereka bergantian memeluk mami, mengucapkan beberapa patah kata untuk menguatkan mami. Papi kemudian menuntun mami dengan hati-hati, Dina pergi dengan langkah berat dan Ben masih di sini, berlutut di sampingku. Ben mengelus nisanku, Melissa Kamil, 7 Agustus 1989- 3 September 2008— RIP. Untuk petama kalinya aku melihat Ben. Seandainya aku bisa memeluknya dan mengatakan padanya bahwa aku baik-baik saja. Ben berdiri, langkahnya begitu berat meninggalkan diriku.
Aku kini melihat cahaya itu datang. Aku tersenyum, melangkah pergi menyambut cahaya yang memelukku dengan penuh kedamaian.
*yak, kalo mau di comment, dikritik, saya seneng banget nerimanya because maybe your bad comments make my writing’s better. XOXO
azikk! ah gw suka bahasa lo yang begitu mengalir dengan alur cerita yang rapih. gw nggak bisaaaa wawawa
BalasHapusmaaci tyaaa! lo mah pasti bisa ty, tyadinda gitu lhoo. hehhe
BalasHapus